Halaman

Sabtu, 26 Oktober 2013

Dahulu

Adalah hari yang membuat Ellen bimbang, bimbang, sekali lagi. Hari kedatangan Dekker. Kedua kalinya di tahun yang sama. Dekker, sosok yang tak pernah Ellen duga kehadirannya. Kembali lagi. Siapapun takkan menyangka. Dekker?
***
 “Hello. Ellen?”
“Iya. Siapa?”
“Dekker. Masih ingat?”
DEG!!! Untuk pertama kalinya. Tentu saja. Bagaimana tidak? Ellen yakin suara yang ada di sebrang sana memang Dekker. Tiga tahun mengejar Dekker. Lelaki tersebut tak pernah sekali pun melihat Ellen jika Ellen berniat menyapanya. Lebih lagi ketika menyapa, sapaan Ellen pun tak pernah dibalasnya. Kini? Empat tahun berlalu semenjak Ellen memutuskan untuk pergi dari kehidupan Dekker.
……………
“Maaf, aku baru datang kepadamu, Ellen. Aku harap ada kesempatan untukku.”
‘Dekker. Bisa – bisanya. Setelah bertahun – tahun, kau tak pernah merasakan apa yang aku rasakan. Terabaikan.’
……………
“Mau kah kau menemuiku?”
“Maaf, tidak bisa, Dekker.”
***
6 bulan kemudian.
Kedua kalinya Dekker datang, kali ini ia datang ke depan rumah Ellen tanpa sepengetahuannya.
“Ellen, ikutlah denganku.” Dengan cepat tangan Dekker menarik tangan Ellen yang masih terkaget melihat kedatangannya yang tiba - tiba, menuntun Ellen masuk ke mobilnya.
“Kita mau ke mana?
“Lihat saja nanti.”
***
Ada kotak di meja makan mereka. Kotak berbentuk hati. Pelan Ellen buka setelah Dekker mengizinkanku melihatnya.
‘Foto – fotoku? Ketika SMA?’ Ellen bergumam.
Dekker tersenyum. “Ya, aku lebih tidak waras kan? Memfotomu kapanpun tanpa sepengetahuanmu. Aku merasakan kau memiliki rasa untukku kala itu. Tapi mungkin aku lebih dulu memiliki rasa untukmu. Makanya aku segila ini. Sampai sekarang rasaku tidak berubah, Ellen. Aku sudah bertahun – tahun menyimpan foto ini. Kini saatnya kukembalikan kepadamu. Untuk disimpan di rumah kita.”
“Maksudmu?”
“Maukah kau menjadi pendamping hidupku?”
Hening.
‘aku memang mengharapkan hal ini. Dulu. Maafkan aku, Dekker. Salah satu alasannya adalah Daniel. Lelaki yang mampu membuatku yakin ada lelaki lain yang mampu membuatku bahagia. Ialah Daniel, kebahagiaanku kini. Calon pendamping hidupku.’
Melalui gerak – gerik tubuh Ellen, Dekker sudah menyadari. Ellen tidak bisa bersamanya, sampai kapanpun.
Dekker hancur. Dan Ellen tak menyadarinya, tertutup senyuman Dekker.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright 2009 The Light. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Blogger Showcase